Senin, 20 April 2009

Pertanian Musti Modern, Berindustri, Berbasis Pedesaan Dan Bersaing

Sabtu, 13 Januari 2001

Pontianak- Memasuki era otonomi, paradigma pembangunan pertanian di Kalbar harus dirubah. Dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern yang berbudayakan industri, berbasiskan pedesaan dan berdaya bersaing. "Kalau tidak demikian kita akan ditinggalkan oleh negara lain, yang memang sudah lama membangun pertaniannya," ungkap Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalbar, Ir Fathan A Rasyid kepada AP Post, Selasa(9/1), di ruang kerjanya.

Menurutnya, selama ini orang melihat, pertanian identik dengan cangkul dan sejenisnya. Sehingga banyak yang enggan menjadi petani. Orang akhirnya meninggalkan kampung halamannya, lalu memilih bekerja menjadi buruh pabrik. Padahal waktu di desa, memiliki tanah untuk digarap.

Cara pandang demikian kata Fathan yang harus dirubah. Sudah saatnya kita jelaskan kepada masyarakat, bahwa menjadi petani tidak selalu miskin. Asalkan dengan catatan, ia bisa menjadi petani yang modern. "Dan itulah yang menjadi cita-cita kita nantinya," ujarnya.

Untuk mencapai itu, tentulah ada tahapan yang mesti dilalui, salah satunya dengan penyiapan sumber daya manusia yang unggul. Karena, perangkat teknologi sebagai sarana penunjang pertanian itu, harus bisa dipelajari oleh si petani. Paling minimal mereka bisa membaca dan menulis.

Lanjut Master jebolan Australia ini, seperti di negara maju, mereka memiliki petani yang modern. Umumnya petaninya kaya-kaya dan berdasi. Bahkan, salah satu bekas Presiden Amerika Serikat juga berasal dari Petani. "Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak," katanya optimis.

Pola pengembangannya ke depan memang berbasiskan di pedesaan. Ini disebabkan desa sangat mempengaruhi kehidupan di perkotaan. Jelas Fathan, orang berbondong-bondong ke kota (urbanisasi) karena uang menumpuk di situ, dan peluang kerja banyak. Karena pendidikan rendah, mereka hanya menjadi buruh kasar dan menjadi masyarakat miskin perkotaan. Lama kelamaan, ini menjadi problem kehidupan di kota seperti kerawanan sosial dan segala macam.

Untuk itu, bila nanti bisa mengembangkan pertanian yang tangguh di pedesaan, akan memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk bisa hidup lebih sejahtera, tanpa harus ke kota."Petani kita nanti harus mampu berdaya saing," harapnya.(mrs)

<>

Menurutnya, selama ini orang melihat, pertanian identik dengan cangkul dan sejenisnya. Sehingga banyak yang enggan menjadi petani. Orang akhirnya meninggalkan kampung halamannya, lalu memilih bekerja menjadi buruh pabrik. Padahal waktu di desa, memiliki tanah untuk digarap.

Cara pandang demikian kata Fathan yang harus dirubah. Sudah saatnya kita jelaskan kepada masyarakat, bahwa menjadi petani tidak selalu miskin. Asalkan dengan catatan, ia bisa menjadi petani yang modern. "Dan itulah yang menjadi cita-cita kita nantinya," ujarnya.

Untuk mencapai itu, tentulah ada tahapan yang mesti dilalui, salah satunya dengan penyiapan sumber daya manusia yang unggul. Karena, perangkat teknologi sebagai sarana penunjang pertanian itu, harus bisa dipelajari oleh si petani. Paling minimal mereka bisa membaca dan menulis.

Lanjut Master jebolan Australia ini, seperti di negara maju, mereka memiliki petani yang modern. Umumnya petaninya kaya-kaya dan berdasi. Bahkan, salah satu bekas Presiden Amerika Serikat juga berasal dari Petani. "Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak," katanya optimis.

Pola pengembangannya ke depan memang berbasiskan di pedesaan. Ini disebabkan desa sangat mempengaruhi kehidupan di perkotaan. Jelas Fathan, orang berbondong-bondong ke kota (urbanisasi) karena uang menumpuk di situ, dan peluang kerja banyak. Karena pendidikan rendah, mereka hanya menjadi buruh kasar dan menjadi masyarakat miskin perkotaan. Lama kelamaan, ini menjadi problem kehidupan di kota seperti kerawanan sosial dan segala macam.

Untuk itu, bila nanti bisa mengembangkan pertanian yang tangguh di pedesaan, akan memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk bisa hidup lebih sejahtera, tanpa harus ke kota."Petani kita nanti harus mampu berdaya saing," harapnya.(mrs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar