Senin, 20 April 2009

budaya modern

Minggu, 29 Oktober 2006
Membongkar Kebekuan Penghayatan Agama (resensi buku)
Oleh : D. Pujiyono, Guru SMA Kolese De Britto, Jogjakarta.

BANYAK ahli kebudayaan di abad lalu mengemukakan keyakinannya bahwa kehidupan modern yang menjanjikan model hidup sekuler yang nyaman, aman, dan makmur akan membuat agama lenyap dan hilang perannya dalam kehidupan sosial. Keyakinan itu bukan tanpa dasar. Sebab, eksistensi agama selama ini memang kurang ramah dengan kehidupan duniawi. Keagamaan malah sering memperlihatkan pertikaian dan peperangan satu sama lain, yang tidak disukai kaum humanis.

Bila agama gagal mewujudkan perdamaian dunia, maka eksistensinya tidak punya arti lagi. Bagaimana mungkin agama mengajarkan kehidupan penuh damai dan persaudaraan di surga, bila kehidupan bersama di dunia saja tidak bisa mengurusnya?

Seperti Kumbakarna dibangunkan dari tidur nyenyaknya yang penuh mimpi dan tiba-tiba sadar akan adanya tugas yang urgen untuk membela tanah air, demikian pula umat beragama harus dibangunkan dari tidurnya di era baru ini demi tugas kemanusiaan di dunia.

Begitulah Romo A. Sudiarja, penulis buku ini, menggambarkan tuntutan penghayatan agama di era globalisasi. Di zaman yang sudah berubah ini, penganut agama tidak lagi menganut agamanya karena konvensi masyarakat, ikut-ikutan yang lain, atau ketakutan pada hukum-hukum Ilahi yang dibebankan kepadanya. Tapi, orang harus menganut agama atas dasar kesadaran.

Kaum agamawan yang menyadari bahwa perubahan radikal dalam kehidupan itu tidak terelakkan, akan memikirkan ulang kiprah agamanya di zaman sekarang sebagai bentuk pertanggungjawaban penghayatan religiusnya. Kehadiran Allah akan lebih dirasakan manusia zaman ini lewat sentuhan kemanusiaannya yang lebih bersifat pragmatis. Uraian-uraian yang bersifat teologis dan dogmatis dianggap kuno dan tidak membumi. Tantangannya adalah bagaimana agama mampu hadir dengan cara baru, melalui kiprahnya yang lebih menyentuh hati, yang pada gilirannya dapat menumbuhkan kesadaran akan arti keberagamaanya. Yakni, menjadi rekan kerja Allah mewujudkan keselamatan di dunia.

Persoalan ini tidak mudah. Karena diantara kaum agamawan sendiri masih ada bermacam-macam pandangan. Ada yang konservatif (menghayati agama yang lebih bercorak ritual-peribadahan). Ada juga yang moderat (tidak menutup akan arus perubahan zaman, tetapi tidak melupakan aspek ritual-peribadahan). Tak ketinggalan, ada pula yang terlalu dinamis (menolak hakikat agama itu sendiri).

Harmoni antara ungkapan iman (baca: ritual-peribadahan) dan perwujudan iman (dalam tindakan moral) adalah sesuatu mesti diupayakan dalam penghayatan agama sekarang ini. Tetapi menjadi catatan di sini, harmoni keduanya belum cukup ketika kedua cara bertindak beragama tidak dibongkar. Agama sebagai sebuah institusi harus siap dan tampil dengan wajah baru. Simbol-simbol, ungkapan dan ajaran, harus dicari yang menyentuh manusia zaman ini. Cara bertindak yang jujur tanpa topeng, tulus mau bersaudara dengan siapa pun, serta bela rasa, menjadi keutamaan kaum agamawan dewasa ini. Sebab, yang penting bukan lagi identitas agamanya, tetapi praktik imannya. Bermanfaat bagi orang lain, atau justru menjadi batu sandungan bagi yang lain.

Untuk sekarang, bersamaan dengan timbulnya kesadaran manusia akan kebebasan, persamaan hak dan kesetaraan, paham pembenaran diri (apologetika) menjadi kurang populer. Secara eksklusif teologi macam itu masih dianut, tetapi secara empiris-sosiologis akan sulit dipertahankan. Pandangan sosio-historis perkembangan agama telah membuat para pemeluk agama lebih serius suka berbicara mengenai amal dan kiprah moral agama dari pada ajaran atau dogma "pembenaran diri" yang sering tak tersentuh oleh akal manusia.

Masyarakat secara de facto tidak bisa menjalankan norma-norma agama yang "dasariah", selain dalam penafsiran konkret yang kontekstual. Dalam masyarakat modern, penafsiran tersebut berbeda dari apa yang pernah ditafsirkan di masa lalu. Tafsiran yang baku menjadi berbahaya ketika beku dan tidak bisa diubah lagi, padahal situasinya sudah berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar